Dinamika Masyarakat Desa dan Kota

Standard

Haruka Suzuki nama kawanku, ia berasal dari negeri sakura tapi sudah lumayan pandai berbahasa Indonesia. Rencananya aku akan membantu haruka  melakukan penelitian dengan mendatangi masyarakat untuk wawancara. Terutama mereka yang sering membuat sirap dari kayu ulin dan mereka yang bersentuhan langsung dengan hutan. Penelitiannya kali ini berbicara tentang Siklus perdagangan kayu di Kalimantan Timur.  

Sebelumnya aku sendiri masih buta dengan daerah yang akan kami datangi, aku hanya sempat membaca sekilas saja informasinya. Dan akhirnya kamipun mulai menempuh perjalanan menuanju sebuah Kecamatan Muara Kaman  di belahan bumi borneo, perjalanan hari itu memakan waktu selama 5 jam. Agak lelah kami bertiga (ms bambang, Haruka dan diriku).. walaupun di tengah perjalanan kami sempat beristirahat sejenak sembari makan siang di sebuah warung yang berada tepat di perempatan jalan.

Akhirnya kami sampai didepan sebuah kantor bertuliskan, Kecamatan Muara Kaman… yuph, tempat inilah yg kami tuju untuk menggali informasi desa-desa mana yang baiknya kami kunjungi untuk memulai penelitian.

Walaupun tidak bertemu dengan Bpak Camat, kami bisa mendapatkan info yg cukup dan ternyata desa-desa disana tidak seperti yg ada dalam bayanganku… dengan jalan kaki bisa sampai ke desa2 yang lainnya. Tapi, huuhh alamakkk jaraknya sangat jauh sekali dari satu desa ke desa lain…bisa satu hari penuh hanya untuk menuju desa berikutnya (yaaa ini Kalimantan bukan Jawa yang hampir tak jauh jaraknya dari desa ke desa) dan untuk beristirahat kami menuju desa terdekat (satu-satunya desa yang memiliki penginapan), yakni desa muara kaman ulu… desa ini berbatasan langsung dengan sungai Mahakam. Jadi kehidupan masyarakatnya pastinya juga banyak tergantung dengan sungai… kebanyakan mereka bekerja sebagai nelayan.

Menjelang pagi kami melanjutkan perjalanan menuju desa menamang kanan dan perjalanan yang ditempuh pun cukup jauh, tengah hari kami baru bisa sampai di desa menamang kanan dengan melewati jalan milik perusahaan HTI Surya Hutani Jaya, yang luas arealnya ampunn…ampunnn dahhh sepanjang jalan yang kami lihat pepohonan yang seragam dari  mulai jenis Acacium sp. sampai Eucalyptus sp., tentunya juga ada perusahaan perkebunan sawit yang  kami lewati…

Sesampainya disana kami langsung menuju rumah bapak kepala desa, karena di desa tersebut tidak ada penginapan jadi kami meminta ijin untuk menginap di rumah tersebut untuk 3-4 hari ke depan. Ibu pemilik rumahppun mengijinkan. Desa tersebut letaknya di pinggiran  anak sungai jadi, sehari-hari masyarakatnya pun punya aktivitas harian yang tidak jauh2 dari sungai dan tentunya, masyarakat disana masih jarang yang memiliki MCK di rumah masing2 kebanyakan yaa…di pinggir sungai. Tapi, dasarnya beruntung ada aja yg menawarkan kami untuk mandi dirumah… (wahhh senengnya).

Tiga hari kami di desa tersebut dan telah melakukan wawancara dengan warga dan diketahui bahwa dulu memang banyak pengrajin sirap, tapi karna sekarang sulit sekali memperoleh kayu ulin alhasil banyak dari mereka yang beralih profesi ada yang bekerja di perusahaan, ada yg berwiraswasta, dll.

Selesai di desa menamang kanan, kami pun pindah ke desa menamang kiri…karena begitu sulit akses dari desa ke desa, akhirnya kami minta bantuan dan terbantu sekali dengan petugas jaga di pos milik TNK (Taman Nasional Kutai), yang saat itu bersedia memberi bantuan untuk mengantar kami ke desa menamang kiri…lumayan jauhh bo’…karena hari itu cuaca cukup cerah sehingga akses masuk ke desa tersebut menjadi lebih mudah dan karena bapak kepala desanya tidak ada, jadi kami di bawa ke tempat seorang kawan dari petugas jaga…dan dengan terbuka mereka menerima kehadiran kami (bersyukur bangettt dah…)

Selama tinggal di situ kami di jamu dengan ikan sungai…yang dengan mudah bisa di dapatkan dengan memasang renggek di tepi2 sungai. Satu waktu kami juga tidak ingin ketinggalan mencari ikan…dengan menggunakan kapal ces kami menyusuri sungai dan mencari tempat2 strategis untuk memasang renggek… dan mengambil ikan yang tertangkap di rengge yang sebelumnya telah terpasang….hasilnya lumayan banyak ikan yang kami dpatkan. Pulang dari mencari ikan, kamipun mencicipi hasil nya …nikmattt.

Kami sangat menikmati kehidupan di desa2 yang dikunjungi, untuk desa menamang kiri sedikit lebih baik dalam hal komunikasi. karena di desa ini sudah ada orang2 yang memiliki antena untuk menangkap signal tapi dlam hal penerangan utamanya listrik…kedua desa ini sama2 masih memakai genset untuk membantu penerangan setiap harinya walaupun ada bantuan dari pemkab kukar untuk solar cell, yg cukup untuk 1 atau dua bolalampu saja…tetapi untuk alat elektronik lainnya tidak cukup kuat jadi masih perlu genset.

Setelah beberapa hari menikmati kehidupan di desa dan berbincang2 dengan warga kami pun kembali ke samarinda untuk meneruskan penelitian dengan melakukan wawancara dengan para pemilik kios di samarinda. Beraneka ragam penyambutan mereka terhadap kami, hal ini dikarenakan untuk kasus kayu sangat sensitif sekali…jadi kebanyakan dari mereka merasa sangat khawatir. Walaupun kami sudah mensiasati tidak lagi menggunakan lembar kuisioner dan hanya menggunakan recorder, tetap saja kekhawatiran itu tampak jelas dan hal ini juga dirasa sangat berbeda dengan yang kami lakukan di desa. Di desa mereka bisa lebih “welcome” menerima kami dan banyak memberikan penjelasan dengan mengamati dan menjalani penelitian ini barulah Q mengerti dengan berbagai dinamika masyarakat desa dan kota, serta bagaimana harus menanggapi respon mereka yang terkadang positif dan terkadang bisa sangat negatif sekali.

Doc. Maret 2009

Advertisements

9 thoughts on “Dinamika Masyarakat Desa dan Kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s