Menjejakkan kaki di Pontianak…

Standard

Kesan pertama menginjakkan kaki di Pontianak-Kalimantan barat, adalah…waouuww semua yang terlihat banyak orang chinese. Di sepanjang jalan dan kebanyakan mereka menjual  aneka makanan dan salah satu makanan yang cukup terkenal sejak tahun 1968 adalah Mie Tiaw Daging Sapi “ Apollo”. Untuk minuman, jika kita memesan es jeruk…mereka akan menambahkan sedikit garam (kurang tau juga kenapa mereka menambahkan garam). Btw, nama kota Pontianak, konon kabar nya berasal dari kata kuntilanak, yang merupakan hantu yang dipercaya  oleh masyarakat setempat. Karena daerah tersebut dulunya banyak dijumpai kuntilanak, maka  nama tersebut akhirnya di jadikan dasar pemberian nama pontianak.

Mie Tiaw Apollo sejak 1968 ...hmmm...enakk 🙂

 

Di  kota Pontianak, kami menginap di Hotel Peony dengan harga kamar standart 300-400 rb/malam. Mayoritas penduduk di Pontianak adalah masyarakat cidayu (Cina, Dayak, Melayu). Sajian kuliner yang bermacam-macam dan jalan dan kebanyakan yang memasak dan menjual makanan adalah chinese dan untuk minuman beralkohol disini dijual bebas.

Di daerah Hotel Peony , merupakan daerah yang tepat untuk pendatang baru yang ingin memanjakan lidah atau bahkan untuk sekedar menicicipi sajian kota pontianak.

Bahasa yang banyak dipakai adalah bahasa Melayu dan ketiaka pergi ke pusat-pusat perbelanjaan, jangan heran jika banyak ditemukan panganan yang berasal dari negara jiran (Malsysia). Hal ini bisa jadi dikarenakan kedekatan akses antara kalimantan barat dengan Malaysia. Selain itu ada beraneka makanan dan kerajinan yang bisa dibeli untuk di jadikan buah tangan, seperti kerajinan kain tenun, batik kalbar, manik-manik, ukir2an kayu dan aneka makanan ringan berupa, lidah buaya yang sudah diolah, pisang pontianak, jeruk pontianak, dan aneka makanan kering lainnya.

Mba Rahmina, Ibu Eva dan Kiky Membeli Kain Batik Kalimantan Barat (Pontianak)

Perjalanan di lanjutkan  ke Putussibau sebuah kabupaten di kalimantan barat, dengan menggunakan pesawat Trigana Air. Sedikit gambaran biaya Transportasi : dari Hotel Peony – Bandara Supadio @ 70.000/org dan pesawat dari pontianak-putussibau sekitar 750.000/0rg.

Bandara putussibau menuju  Hotel Sanjaya @ 30.000/org dan biaya penginapan di Hotel Sanjaya sekitar 200-400 rb.

Di kabupaten Putussibau, kondisinya tidak terlalu ramai, namun telah ada kantor-kantor pemerintahan yang lengkap dan bank yang ada baru BRI saja. Selama dua hari kami tinggal disini sudah cukup mengelilingi daerah putussibau dan beberapa kawan pun sudah membeli beberapa barang khas kerajinan disana. Hari selanjutnya kami menghadiri pertemuan di dinas kehutanan, dengan yang hadir dari berbagai instansi terkait dan beberapa dari NGO.

 

Mendapat kawan baru bernama Andy dari FFI yang juga hobby dengan pengamatan burung, bersyukur  bisa menyempatkan diri untuk bird watching di kawasan wisata di putus sibau, walaupun tanpa binokuler..karna binokuler di kantor lagi pada dipake ke lapangan katanya…hoo..hoo .. ya sudahlah tidak apa, toh akhirnya tetep bisa bertemu burung di daerah itu… ^_^

 

Selain Andy ada lagi satu kawan.. Bas biasa dia dipanggil, lebih lengkapnya Sebastian Deroyer, dia berasal dari Perancis dan sedang menyelesaikan studinya di  Belanda. Saat ini dia sedang menyelesaikan penelitian di beberapa desa termasuk desa manua sadap yang akan kami datangi nanti. Bas cukup banyak  memberikan, informasi awal terkait desa yang akan kami datangi…karna ia baru saja ke desa tersebut. Keesokan harinya, kami berangkat menuju desa manua sadap menggunakan bus. Bus adalah salah satu alternatif transportasi yang paling murah dengan biaya @ 80.000/ orang.

Perjalanan yang kami lalui tak mulus seperti di jalan Tol. Ada begitu banyak lubang2 besar, belum lagi jalanan becek dan berlumpur yang membuat bus harus selalu berhenti dan mengerahkan powernya untuk melewati setiap lubang dan tentu saja setiap kali bus berjibaku dengan lumpur para penumpang diwajibkan untuk turun sehingga membantu memudahkan jalanya bus melewati rintangan.

Jalan Rusak yang harus dilalui untuk bisa sampai di desa sadap, kegiatan menarik mobil yang amblas + penumpang wajib turun. Bisa sampai 5 kali turun naik bus, jika kondisi jalan rusak parah & sangat becek karena hujan... 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s