Aceros undulatus di Bukit Bangkirai

Standard

Aceros undulatus jantan dan betina , terlihat sedang bertengger di atas pohon kering

Berangkat dengan satu kendaraan, delapan orang dan barang seabrek he..hee…sesuatu banget yah. Yang ada empet-empetan, tapi semua demi bisa melihat satwa di alam…everything gonna be okay. Kali ini lokasi yang dipilih cukup menarik, Kawasan Wisata Bukit Bangkirai. Perjalanan menuju Kawasan wisata Bukit Bangkirai menghabiskan waktu sekitar 2,5-3 jam perjalanan. Perjalanan di mulai sekitar pukul 14:00 Wita, karena harus menunggu semua tim untuk berkumpul. Kegiatan yang diikuti oleh delapan orang ini berasal dari berbagai background dan organisasi yang berbeda. Ada yang bekerja di NGO, Pegiat Lingkungan, Wiraswasta, Bank, Mapflofa (Mahasiswa Penyayang Flora Fauna), PNS dan BBC (Borneo Bird Community).

Selain berbekal kamera tak lupa kami berbekal aneka cemilan untuk persediaan kalau saja si kampung tengah sedang protes. Sesampainya di simpang Samboja, kami beristirahat sejenak sambil mengisi energi…he..hee..maklum tim lagi kelaperan.

Untuk melanjutkan perjalanan masih sekitar 20 km lagi menuju bukit bangkirai. Setelah makan, kami segera bergegas melanjutkan perjalanan. Dengan jalanan yang apa adanya, lubang dimana-mana dan tak semua jlan beraspal. Jalanannya cukup hancur dan berbatu, membuat kami berasa naik kuda. Tapi, Lagi-lagi demi bisa melihat satwa di alam kami hilangkan segala keluh kesah, dan tetap dengan semangat yang luar biasa  akhirnya bisa sampai juga disana.

Kegiatan kedua ini berawal dari kesuksesan kegiatan pertama, Kalimantan Wildlife Photography. Yang kemudian pada tanggal 13 Mei 2012 kembali mengadakan kegiatan turun lapangan dengan beberapa personilnya : Ali Mustofa, Ade Fadli, Danang, Ridwan, Merry, Etha, Awaliya dan Reski untuk pengamatan burung sembari hunting foto satwa liar.

Sunset sudah menanti dan kamipun sampai di Bukit Bangkirai, suasana cukup ramai. Karena sudah ada sekumpulan orang yang akan melakukan kegiatan di daerah tersebut sampai dengan hari minggu. Dan jelas saja, kamipun tak kebagian cottage untuk dijadikan tempat menginap. Setelah mendatangi kantor administrasi bukit bangkirai dan berbicara dengan petugas dan atas kebaikan hati nya kami tetap bisa bermalam disitu, tidak di cottage tapi di guest house. Lumayan nyaman untuk beristirahat dan bersih-bersih.

Cottage yang ada di Bukit Bangkirai, Kalimantan Timur

Burung Gereja di Sekitar Cottage

Buah dari Podocarpus

Waktu beranjak malam, setelah selesai makan malam kami siap dengan peralatan perang masing-masing. Tapi, ada kekurangan malam itu. Kurang senter alias penerangan dan Sepatu anti air  (Boot). Yang bawa senter hanya tiga orang, Danank, Reski dan Etha. Alhasil, bisa dibilang pengamatan malamnya pun masih kurang maksimal. Tapi, dengan perlengkapan seadanya semaksimal mungkin bisa menemukan satwa malam. Pertama yang jadi bahan rebutan foto adalah Semut Berukuran besar yang sedang mondar-mandir keluar dari sarangnya. Setelah litu lanjut mencari katak dan Ular. Karena keberuntungan malam itu hanya bertemu katak, kami pun ikhlas tidak bisa bertemu dengan ular . Mungkin lain kali keberuntungan kami bisa berkali lipat dan bisa bertemu dengan ular. Selesai menjadikan si semut dan katak “bulanan-bulanan” untuk di potret. Kami pun kembali ke rumah untuk istirahat, mengingat esok pagi harus melanjutkan pencarian. Di pertengahan jalan menuju rumah, kami bertemu dengan bunglon berwarna hijau ukurannya cukup besar dan tentu saja si bunglon ini mendadak menjadi layaknya seorang artis, yang clap…clap…clap…lampu blitz tak henti-hentinya menghujani si bunglon. Dan si bunglon cuma bisa senyum malu-malu (Ngasal) :D.

Semut keluar masuk dari sarangnya

BUnglon, salah satu satwa yang ditemui pada saat pengamatan malam hari

Katak ditemukan di lantai hutan, pada malam hari

Keesokan paginya sekitar jam 06:15, kami sudah mulai memasuki jalur trek untuk menuju canopy bridge. Dengan jarak Trek I 150 meter dan Trek II 300 meter. Baru saja masuk ke dalam hutan tersebut, rasanya sejuk, lembab dan aroma hutan tropis sekali disana. Di tambah suguhan pohon-pohon berdiameter besar dan tinggi yang mencapai puluhan meter membuat mata selalu berdecak kagum. Beberapa pohon telah diberi  nama, sehingga memudahkan kita untuk mengenal jenis pepohonan tersebut, yang kebanyakan merupakan jenis khas hutan tropis Kalimantan, Dipterocarpaceae.

Trek II 300 meter menuju canopy bridge

Selanjutnya adalah sesi utama, mengamati dan menabadikan satwa yang bisa terlihat dari canopy bridge. Untuk bisa menyebrangi canopy bridge, sebelumnya harus menaiki tangga –tangga setinggi 30 meter. Setelah berada di puncak teratas tangga, barulah bisa menikmati sensasi menyebrangi dua jembatan panjang (± 15-20 meter) dan yang pendek  (± 5 meter). Kalau udah lihat ke bawah, bisa-bisa nggak berani nyebrang. Mending pandangannya ke depan atau melihat sekeliling sambil komat-kamit pasti mulutnya baca do’a. Terlepas dari ketakutan itu, pemandangan nan indah terbentang di sepanjang mata memandang. Hamparan Hutan Hujan Tropis Kalimantan dapat dinikmati. Inilah yang di sebut-sebut sebagai Zamrud Khatulistiwa. Melihat beraneka jenis pohon dari Dipterocarpaceae, yang merupakan tumbuhan khas Hutan Hujan Tropis di Kalimantan. Kita dibuat berdecak kagum, di tambah kicau burung aneka jenis dari Mulai Aceros undulatus yang terbang beramai-ramai sekitar enam ekor, Dicrurus paradiseus yang memiliki ekor panjang nan indah , Dicaeum trigonostigma, Dicaeum cruentatum burung berukuran sangat kecil dan Burung madu yang sedang mencari makan. Suara satwa lain yang juga menemani adalah Owa – owa (Hylobates meulleri), walaupun tak dapat terlihat tetapi suaranya menggema nyaring dan meliuk-liuk indah. Dari atas jembatan kita masih bisa dengan mudah melihat burung rangkong (Aceros undulatus) jantan dan betina, sedang nangkring di atas pohon kering. Selain itu juga masih bisa melihat Lutung merah (Presbytis rubicunda) bergelantungan kesana kemari bersama kelompoknya.

Tangga Naik Canopy Bridge

Jembatan terlihat dari bawah

Canopy Bridge

Aceros undulatus (Julang emas)

Lutung merah (Presbytis rubicunda)

Dicrurus paradiseus, berada di salah satu tajuk pohon

Dicrurus paradiseus sedang terbang indah di atas pepohonan Dipterocarpaceae

Selesai mengambil gambar baik itu sunrise, Kondisi Hutan Tropis yang masih sangat bagus, maupun satwa yang mondar-mandir terbang kesana kemari di sekitarnya. Kami memutuskan untuk kembali, namun melewati Trek yang berbeda. Di tengah perjalanan pulang kami masih sempat memotret katak berukuran sangat kecil kira-kira 1 cm dan beberapa hewan kecil lainnya seperti kupu-kupu, capung dan burung yang terlihat. Dan yang menarik, kami menemukan sekelompok kecil burung terestrial sekitar 3 ekor. Danank, yang menunjukkan pertama kali. Jenis tersebut teridentifikasi yakni jenis Rolllulus rouloul. Kemudian Reski coba mengikuti burung tersebut untuk coba mengabadikan namun belum berhasil, mungkin lain waktu bisa.

Landscape Hutan Tropis Kalimantan Timur Terlihat dari Canopy Bridge Bukit Bangkirai

Tajuk Pohon terlihat dari Canopy Bgridge

Hutan Hujan Tropis Kalimantan Timur, Kondisinya masih sangat bagus dan terlihat langsung dari Atas Canopy Bridge

Pohon meranti sedang berbunga

Kelelawar

Katak Berukuran sangat kecil, sekitar 1 cm

Bunglon

Usai Kegiatan di Bukit Bangkirai, kawan-kawan belum juga lelah. Kemudian diputuskan untuk melanjutkan pengamatan satwa sekaligus hunting gambar di Pantai Tanjung Harapan Samboja. Disana  menemukan beberapa jenis burung, seperti Ortothomus sericeus, Rhipidura javanica, Elang laut perut putih (Juvenille),  Alcedo meninting, Pelargopsis capensis, Motacilla Alba, Egretta sacra, Pycnonotus goiavier, Hirundo tahitica, Merops viridis  dan pada bulan Mei seperti ini biasanya banyak  berdatangan burung migran salah satu nya adalah jenis Todirhamphus sanctus. Burung Todirhamphus sanctus adalah salah satu jenis burung migran dari Australia yang rutin datang ke daerah tersebut.

Hutan Mangrove di Pantai Tanjung Harapan Samboja

Orthotomus sericeus

Alcedo meninting

Haliaeetus leucogaster (juvenile)

Setelah berkeliling sebentar, dan hari sudah terlalu sore maka diputuskan untuk pulang. Saat melewati jalan kampung yang tidak jauh dari pantai, ciittt…ciiittt…mobil diminta berhenti, raka Ali pun dengan sigap menghentikan mobilnya .  Buka jendela dan clap…clap…clap… burung yang dicari-cari pun tertangkap kamera. Burung migran pendatang dari Austraila, Todirhamphus sanctus. Burung tersebut sedang asik nangkring di atas kabel listrik. Walaupun momentnya tidak terlalu baik, setidaknya bisa menemukannya dan mendokumentasikannya di tahun 2012 saja sudah sangat menyenangkan.

Todirhamphus sanctus, burung migran dari Australia

Pantai Tanjung Harapan Samboja

Nepenthes, sp.

Kepiting Layar

Pemandangan dari Jembatan Sungai Merdeka, Perjalanan Menuju Pantai Tanjung Harapan Samboja

Anak Burung Aegithina tiphia

Mengambil Gambar Burung Aegithina tiphia, yang sedang melompat dari ranting ke ranting (Jembatan Sungai Merdeka). Perjalanan menuju Pantai Tanjung Harapan Samboja

Sunset Sore hari di Samboja

Reski Udayanti

Mei 2012

2 responses »

  1. Minta ijin kalau diperkenankan untuk mengambil beberapa gambar Bukit Bengkirai untuk kalender internal (bukan untuk dijual)
    rgds,
    eba siregar

    • Iya boleh saja,
      Untuk kalender lembaga atau apa ini?
      Tapi tolong tetap di cantumkan credit title / nama : untuk foto-foto saya.

      terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s